Jumat, 01 November 2013
Apindo: Kerugian Mogok Buruh Ratusan Miliar
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, kerugian akibat mogok nasional yang dilakukan para buruh, mencapai ratusan miliar rupiah.
Sumber
Menkeu: Waspadai Inflasi Tinggi Bulan Desember
Menteri Keuangan M. Chatib Basri
menuturkan pemerintah berharap inflasi hingga akhir tahun 2013 bisa di bawah 9
persen.
Menurut Chatib, melihat inflasi bulan Oktober 2013 yang cukup rendah sebesar 0,09 persen, ia optimistis dalam rentang waktu 2 bulan diprediksi inflasi bisa di bawah 9 persen, meski biasanya ada tren kenaikan pada bulan Desember.
“Target sampai akhir tahun mudah-mudahan bisa di bawah 9 persen, karena sisanya tinggal bulan November - Desember. November biasanya rendah, Desember agak tinggi,” kata Chatib di Jakarta, Jumat (1/11/2013).
Lebih lanjut ia memproyeksikan bahwa inflasi year to date (ytd) hingga akhir tahun masih di bawah 8,32 persen. Ia mengatakan pemerintah harus merespon positif kecenderungan inflasi yang meningkat pada Desember.
Sementara itu, dari sisi neraca perdagangan yang mengalami defisit 660 juta dollar AS. Chatib menilai hal itu masih bisa ditoleransi. Malah, ia mengaku pernah memroyeksikan defisit neraca perdagangan menyentuh di bawah 1 miliar dollar AS.
“Jadi kalau misal terjadi defisit neraca perdagangan 660 juta dollar AS, saya yakin sampai kuartal III-2013 defisit transaksi berjalan masih di bawah 4 persen. Mungkin kita bisa bicara defisit transaksi berjalan sekitar 3,3-3,5 persen sampai akhir tahun,” sambung mantan kepala BKPM itu.
Ia menambahkan bahwa hal itu menunjukkan neraca perdagangan sudah mulai pulih. Meski diakui Chatib, perkiraaan defisit transaksi berjalan baru bisa dicapai 2014 mendatang.
Sebagai informasi, pagi ini adan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, inflasi bulan Oktober 2013 tercatat 0,09 persen. Sedangkan bulan September sebelumnya tercatat deflasi sebesar 0,32 persen.
BPS juga melansir nilai ekspor Indonesia pada September 2013 mencapai 14,81 miliar dollar AS, naik 13,19 persen dibanding Agustus 2013 sebesar 13,16 miliar dollar AS.
Kenaikan diikuti dengan kenaikan impor sebesar 18,86 persen, dari 13,03 miliar dollar AS pada Agustus 2013 menjadi 15,47 miliar dollar AS pada September 2013. Dengan demikian, sepanjang September 2013 terjadi defisit perdagangan sebesar 660 juta dollar AS.
Menurut Chatib, melihat inflasi bulan Oktober 2013 yang cukup rendah sebesar 0,09 persen, ia optimistis dalam rentang waktu 2 bulan diprediksi inflasi bisa di bawah 9 persen, meski biasanya ada tren kenaikan pada bulan Desember.
“Target sampai akhir tahun mudah-mudahan bisa di bawah 9 persen, karena sisanya tinggal bulan November - Desember. November biasanya rendah, Desember agak tinggi,” kata Chatib di Jakarta, Jumat (1/11/2013).
Lebih lanjut ia memproyeksikan bahwa inflasi year to date (ytd) hingga akhir tahun masih di bawah 8,32 persen. Ia mengatakan pemerintah harus merespon positif kecenderungan inflasi yang meningkat pada Desember.
Sementara itu, dari sisi neraca perdagangan yang mengalami defisit 660 juta dollar AS. Chatib menilai hal itu masih bisa ditoleransi. Malah, ia mengaku pernah memroyeksikan defisit neraca perdagangan menyentuh di bawah 1 miliar dollar AS.
“Jadi kalau misal terjadi defisit neraca perdagangan 660 juta dollar AS, saya yakin sampai kuartal III-2013 defisit transaksi berjalan masih di bawah 4 persen. Mungkin kita bisa bicara defisit transaksi berjalan sekitar 3,3-3,5 persen sampai akhir tahun,” sambung mantan kepala BKPM itu.
Ia menambahkan bahwa hal itu menunjukkan neraca perdagangan sudah mulai pulih. Meski diakui Chatib, perkiraaan defisit transaksi berjalan baru bisa dicapai 2014 mendatang.
Sebagai informasi, pagi ini adan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, inflasi bulan Oktober 2013 tercatat 0,09 persen. Sedangkan bulan September sebelumnya tercatat deflasi sebesar 0,32 persen.
BPS juga melansir nilai ekspor Indonesia pada September 2013 mencapai 14,81 miliar dollar AS, naik 13,19 persen dibanding Agustus 2013 sebesar 13,16 miliar dollar AS.
Kenaikan diikuti dengan kenaikan impor sebesar 18,86 persen, dari 13,03 miliar dollar AS pada Agustus 2013 menjadi 15,47 miliar dollar AS pada September 2013. Dengan demikian, sepanjang September 2013 terjadi defisit perdagangan sebesar 660 juta dollar AS.
Analisa:
inflasi menyebabkan semua harga menjadi melonjak naik. Dengan ini pemerintah harus bisa mengatasi itu dengan baik cepat dan tepat. Jangan sampai dibiarkan inflasi tinggi itu terjadi. Karena rakyat lah yg menderita nantinya.
sumber:
inflasi menyebabkan semua harga menjadi melonjak naik. Dengan ini pemerintah harus bisa mengatasi itu dengan baik cepat dan tepat. Jangan sampai dibiarkan inflasi tinggi itu terjadi. Karena rakyat lah yg menderita nantinya.
sumber:
Senin, 14 Oktober 2013
BI: Tingkat Konsumsi Masyarakat Melambat
JAKARTA,
KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi
penurunan konsumsi masyarakat seiring dengan terjadinya perlambatan pertumbuhan
ekonomi.
Hal itu terungkap dalam Survei Penjualan Eceran BI Agustus 2013, di mana indeks penjualan rill bulanan pada Agustus 2013 turun sebanyak 3,2 persen dari bulan sebelumnya yang mencapai 11,6 persen month to month.
Penurunan penjualan terjadi pada seluruh kelompok barang, yang terbesar dikontribusi oleh kelompok sandang.
"Secara tahunan penjualan riil pada Agustus 2013 masih tumbuh 1,3 persen (yoy), namun jauh melambat baik dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya (15,2 persen, yoy) ataupun periode yang sama tahun sebelumnya (10,6 persen yoy)," kata Direktur Ekeskutif Departemen Komunikasi BI Difi A Johansyah, Jumat (11/10/2013).
Di samping itu, survei BI tersebut juga mengindikasikan penurunan konsumsi masyarakat yang semakin dalam pada September 2013. Indeks penjualan eceran riil diperkirakan turun sebesar 14,3 persen dari bulan sebelumnya.
"Hal ini karena masyarakat diperkirakan cenderung untuk menahan atau mengurangi konsumsi pada September 2013 akibat tingginya pengeluaran saat bulan puasa dan Idul Fitri," ujar Difi.
Penurunan konsumsi masyarakat ini juga dibuktikan oleh penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 107,8 di bulan Agustus menjadi 107,1, namun masih berada pada level optimis (di atas 100).
Hal itu terungkap dalam Survei Penjualan Eceran BI Agustus 2013, di mana indeks penjualan rill bulanan pada Agustus 2013 turun sebanyak 3,2 persen dari bulan sebelumnya yang mencapai 11,6 persen month to month.
Penurunan penjualan terjadi pada seluruh kelompok barang, yang terbesar dikontribusi oleh kelompok sandang.
"Secara tahunan penjualan riil pada Agustus 2013 masih tumbuh 1,3 persen (yoy), namun jauh melambat baik dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya (15,2 persen, yoy) ataupun periode yang sama tahun sebelumnya (10,6 persen yoy)," kata Direktur Ekeskutif Departemen Komunikasi BI Difi A Johansyah, Jumat (11/10/2013).
Di samping itu, survei BI tersebut juga mengindikasikan penurunan konsumsi masyarakat yang semakin dalam pada September 2013. Indeks penjualan eceran riil diperkirakan turun sebesar 14,3 persen dari bulan sebelumnya.
"Hal ini karena masyarakat diperkirakan cenderung untuk menahan atau mengurangi konsumsi pada September 2013 akibat tingginya pengeluaran saat bulan puasa dan Idul Fitri," ujar Difi.
Penurunan konsumsi masyarakat ini juga dibuktikan oleh penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 107,8 di bulan Agustus menjadi 107,1, namun masih berada pada level optimis (di atas 100).
Analisa :
terjadi keturunan tingkat konsumsi disebabkan karena mahalnya harga suatu barang. Penghasilan yg minimal tidak seimbang terhadap harga barang yang sekarang cenderung mahal.
terjadi keturunan tingkat konsumsi disebabkan karena mahalnya harga suatu barang. Penghasilan yg minimal tidak seimbang terhadap harga barang yang sekarang cenderung mahal.
Sumber:
R&I Pertahankan "Investment Grade" Indonesia
JAKARTA,
KOMPAS.com - Rating and Investment Information,
Inc. (R&I), sebuah lembaga pemeringkat asal Jepang, mempertahankan
peringkat investasi Indonesia (Sovereign Credit Rating) pada BBB-/stable
outlook.
"Kami menyambut baik afirmasi Investment Grade dari R&I ini, serta mengapresiasi pengakuan R&I terhadap efektivitas respons kebijakan otoritas perekonomian Indonesia dalam mengantisipasi gejolak ekonomi dan ketidakpastian pasar keuangan global saat ini," kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dalam siaran pers, Jumat (11/10/2013).
R&I menjelaskan, faktor kunci yang mendukung keputusan afirmasi bagi sovereign credit rating Indonesia antara lain kemampuan Indonesia dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang dan pengelolaan fiskal yang konservatif.
Di samping itu, perbankan yang sehat dan beban utang pemerintah yang rendah juga menjadi faktor penting.
Lebih rinci, analis R&I menyatakan, di tengah tekanan terhadap nilai tukar, Indonesia mampu mempertahankan kekuatan cadangan devisa untuk memenuhi kewajiban Utang Luar Negeri Jangka Pendeknya.
Dengan respons kebijakan yang telah dikeluarkan otoritas perekonomian Indonesia, R&I tetap optimis Indonesia masih mampu mempertahankan peringkat investment grade ini.
Selain itu, melimpahnya sumber daya alam dan pasar domestik yang besar tetap menjadi kekuatan ekonomi Indonesia. Dengan dukungan arus masuk investasi asing langsung (Foreign Direct Investment / FDI) Indonesia akan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dalam jangka menengah.
"Kami akan melanjutkan komitmen terhadap penguatan stabilitas ekonomi secara menyeluruh dan percepatan penyesuaian perekonomian Indonesia ke tingkat yang lebih sehat," tegas Agus.
"Kami menyambut baik afirmasi Investment Grade dari R&I ini, serta mengapresiasi pengakuan R&I terhadap efektivitas respons kebijakan otoritas perekonomian Indonesia dalam mengantisipasi gejolak ekonomi dan ketidakpastian pasar keuangan global saat ini," kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dalam siaran pers, Jumat (11/10/2013).
R&I menjelaskan, faktor kunci yang mendukung keputusan afirmasi bagi sovereign credit rating Indonesia antara lain kemampuan Indonesia dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang dan pengelolaan fiskal yang konservatif.
Di samping itu, perbankan yang sehat dan beban utang pemerintah yang rendah juga menjadi faktor penting.
Lebih rinci, analis R&I menyatakan, di tengah tekanan terhadap nilai tukar, Indonesia mampu mempertahankan kekuatan cadangan devisa untuk memenuhi kewajiban Utang Luar Negeri Jangka Pendeknya.
Dengan respons kebijakan yang telah dikeluarkan otoritas perekonomian Indonesia, R&I tetap optimis Indonesia masih mampu mempertahankan peringkat investment grade ini.
Selain itu, melimpahnya sumber daya alam dan pasar domestik yang besar tetap menjadi kekuatan ekonomi Indonesia. Dengan dukungan arus masuk investasi asing langsung (Foreign Direct Investment / FDI) Indonesia akan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dalam jangka menengah.
"Kami akan melanjutkan komitmen terhadap penguatan stabilitas ekonomi secara menyeluruh dan percepatan penyesuaian perekonomian Indonesia ke tingkat yang lebih sehat," tegas Agus.
Analisa:
Menurut saya mendapatkan pengakuan dari R&I terhadap
efektivitas respons kebijakan otoritas perekonomian Indonesia dalam
mengantisipasi gejolak ekonomi dan ketidakpastian pasar keuangan global saat
ini ,itu sangat baik. Dikarenakan Indonesia mampu mempertahankan kekuatan
cadangan devisa untuk memenuhi kewajiban Utang Luar Negeri Jangka Pendeknya .
ini sebuah prestasi buat Indonesia untuk semakin termovitasi terhadap penguatan
stabilitas ekonomi.
Sumber
Langganan:
Postingan (Atom)